Kamis, 19 Maret 2015

Fakta Menarik Dibalik Mengonsumsi Daging Sapi

Rangkuman ini membuat anda akan berpikir dua kali untuk mengonsumsi daging sapi.

Fakta Menarik Dibalik Mengonsumsi Daging SapiSalah satu restoran di Texas memberikan tantangan kepada pengunjungnya untuk makan 72 ons daging sapi dalam waktu singkat. (National Geographic)
Mudah saja, memesan hamburger favorit di restoran cepat saji setiap hari atau memesan wagyu steak di restoran langganan anda.
Tapi tahukah anda? Ada beberapa fakta menarik dan juga menyeramkan di balik nikmatnya mengkonsumsi panganan daging sapi yang kita gemari tersebut.
Asal Muasal Sapi
Dimulai dari sejarah asalnya sapi. Nenek moyang sapi adalah auroch, sebuah binatang yang dikenal kuat, pintar, dan sangat gesit. Julius Caesar dalam karyanya pernah mengatakan ketakutannya bertemu dengan auroch di alam liar. Orang Romawi kuno kadang membawa auroch ke Colloseum untuk bertarung melawan gladiator.
Di satu sisi, orang-orang Romawi kuno mulai memerah dan mengkonsumsi susu auroch. Lambat laun, auroch mulai dipelihara dan diternak hingga berkembang menjadi 800 keturunan berbeda. Kini , spesies asli auroch sudah punah, betina terakhirnya ditemukan mati 300 tahun lalu di Polandia.
Pada tahun 1920, dua orang penjaga kebun binatang di Jerman mengembangbiakkan auroch dari sapi domestik yang merupakan keturunan asli dari auroch. Menurut mereka, suatu spesies tidak akan punah selama gennya masih tersedia. Buah pikiran mereka menghasilkan keturunan sapi Heck, sapi yang selama ini kita lihat dan konsumsi.
Mengkonsumsi daging sapi berarti membantu mempercepat proses perubahan iklim di bumi daripada yang diakibatkan dari pembakaran bensin.
Pasangan aktivis lingkungan dan penulis buku CowedThe Hidden Impact of 93 Million Cows on America’s Health, Economy, Politics, Culture, and Environment, Denis Hayes dan Gail Boyer Hayes, mengatakan kepada National Geographic: “Jumlah karbon dioksida yang dihasilkan dari produksi daging sapi tiap ponnya (1 pon=453gram), nyatanya, jauh lebih besar dari yang dihasilkan dari pembakaran bensin.”
Mengapa demikian?
Umumnya, daging sapi yang kita makan berasal dari hasil peternakan sapi besar di dunia Barat. “Jika anda merunut proses dan menghitung energi yang dibutuhkan sejak proses menernakkan sapi hingga menjadi hidangan di atas meja makan anda, maka benar, karbon dioksida yang dihasilkan lebih besar dari yang dilakukan pengendara mobil berbahan bakar bensin,” jelas Denis.
Jumlah energi tersebut sudah termasuk  dari hasil proses pemupukan jagung yang menjadi makanan sapi ternak, energi dari hasil pembakaran bensin yang digunakan mesin traktor untuk membajak ladang, gas yang dipakai untuk memindahkan jagung hasil panen ke tempat peternakan sapi untuk kemudian diberikan ke sapi sebagai makanannya, energi yang dipakai untuk memotong dan mengawetkan daging sapi, mengirimnya ke pasar dan supermarket, gas yang terkandung dalam sunblock lotion  yang dipakai konsumer sebelum pergi ke pasar demi daging sapi, dan yang terakhir gas yang digunakan konsumer  untuk mengolah daging sapi tersebut.
“Jika anda sudah sampai poin terakhir dari proses panjang penyediaan stok daging sapi tersebut, maka gas karbon dioksida yang dihasilkan akan lebih besar dibanding yang dihasilkan dari proses pembakaran bensin,” tutup Denis, yang juga menggagas konsep “Hari Bumi” di tahun 1970 silam.

Konrad Emil Bloch - Penemu mekanisme dan pengaturan metabolisme kolesterol dan asam lemak

Konrad Emil Bloch adalah seorang  biokimiawan Amerika Jerman. Pada 1964, ia menerima Hadiah Nobel Kedokteran bersama dengan Feodor Lynen, untuk penemuan mereka tentang mekanisme dan pengaturan metabolisme kolesterol dan asam lemak. Di samping menerima Hadiah Nobel, ia juga menerima Penghargaan Fritzsche dari American Chemical Society (1964) dan Medali Cardan dari Lombardy Academy of Sciences (1965). Ia juga anggota American Chemical Society, National Academy of Sciences dan American Academy of Arts and Sciences.


Kehidupan dan karier

Bloch lahir pada 21 Januari 1912 di Neisse (Nysa), di Kekaisaran Jerman Prusia Provinsi Silesia. Dia adalah anak kedua dari orang tua kelas menengah Hedwig (Striemer) dan Frederich D. "Fritz" Bloch. Dari tahun 1930 sampai 1934, ia belajar kimia di Technical University of Munich. Pada tahun 1934, karena penganiayaan  Nazi terhadap orang Yahudi ia melarikan diri ke Schweizerische Forschungsinstitut di Davos, Swiss, sebelum pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1936. Kemudian ia diangkat di departemen kimia biologi di Yale Medical School.

Di Amerika Serikat, Bloch terdaftar di Columbia University, dan menerima Ph.D dalam biokimia pada tahun 1938. Dia mengajar di Columbia dari 1939 sampai 1946. Dari sana ia pergi ke Universitas Chicago dan kemudian ke Universitas Harvard sebagai Higgins Professor of Biochemistry pada tahun 1954, yaitu jabatan yang dipegangnya sampai tahun 1982. Setelah pensiun di Harvard, ia menjabat sebagai Mack dan Effie Campbell Tyner Eminent Scholar Chair di College of Human Sciences di Florida State University .

Bloch berbagi Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1964 dengan Feodor Lynen, untuk penemuan mereka mengenai mekanisme dan pengaturan metabolisme kolesterol dan asam lemak. Pekerjaan mereka menunjukkan bahwa tubuh yang pertama membuat squalene dari asetat lebih banyak langkah dan kemudian mengubah squalene kolesterol. Ia menelusuri semua atom karbon kolesterol kembali ke asetat. Beberapa penelitian dilakukan dengan menggunakan asetat radioaktif dalam cetakan roti: ini dimungkinkan karena jamur juga memproduksi squalene. Dia menegaskan hasil itu menggunakan tikus. Dia adalah salah satu dari beberapa peneliti yang menunjukkan bahwa asetil Koenzim A berubah menjadi asam mevalonat. Bloch dan Lynen kemudian menunjukkan bahwa asam mevalonat diubah menjadi kimia aktif isoprena, para pendahulu untuk squalene. Bloch juga menemukan empedu dan hormon s3ks wanita yang terbuat dari kolesterol, yang menyebabkan penemuan bahwa semua steroid terbuat dari kolesterol. Kuliah Nobel adalah "The Biological Sintesis Kolesterol."

Bloch dan Lore Teutsch pertama kali bertemu di Munich; pada tahun 1941 mereka menikah di AS Mereka memiliki dua anak, Peter C. Bloch dan Susan E. Bloch. Dia menyukai ski, tenis, dan musik. Konrad Bloch meninggal di Lexington, Massachusetts akibat gagal jantung kongestif, saat berusia 88 tahun.

Setelah Puluhan Tahun, Danau Air Tawar ini Kering

"Setelah 600 tahun lamanya, ini adalah kali pertama perairan tersebut benar-benar kering," kata Philip Micklin.

Setelah Puluhan Tahun, Danau Air Tawar ini KeringPada tahun 2000 (kiri), Laut Aral menyusut menjadi bagian kecil dibanding 1960 (garis hitam). Irigasi lebih lanjut dan kondisi kering pada 2014 (kanan) menyebabkan bagian cuping timur laut benar-benar kering untuk pertama kalinya dalam 600 tahun. (NASA Earth Observatory)
Gambar satelit yang dirilis minggu ini oleh NASA menunjukkan Danau Aral Sea yang sekarang benar-benar kering. Penyebab kekeringannya adalah pengalihan air untuk irigasi selama puluhan tahun dan juga kekeringan yang baru-baru ini melanda.
"Setelah 600 tahun lamanya, ini adalah kali pertama perairan tersebut benar-benar kering. Sejak pengeringan pada abad pertengahan yang terkait dengan pengalihan fungsi sungai Amu Darya ke Laut Kaspia," kata Philip Micklin, ahli Aral Sea dan seorang geograf dari Western Michigan University, di Kalamazoo.
Danau air tawar ini pernah memiliki luas permukaan 26.000 mil persegi (67.300 kilometer persegi). Sudah lama telah dikelilingi dengan kota-kota makmur dan didukung industri musang melempari menguntungkan dan perikanan berkembang, menyediakan 40.000 pekerjaan dan memasok Uni Soviet dengan keenam tangkapan ikannya.
Aral Sea adalah aliran dari dua sungai paling kuat di Asia Tengah, yaitu Amu Darya dan Syr Darya. Pada 1960-an, insinyur Soviet memutuskan untuk meluaskan jalanan. Mereka pun membangun jaringan irigasi raksasa, termasuk kanal sepanjang 20.000 kilometer, 45 bendungan, dan lebih dari 80 tendon, yang digunakan untuk mengairi luas bidang kapas dan gandum di Kazakhstan dan Uzbekistan.
Namun, sistem tersebut mudah bocor dan tidak efisien, dan sungai pun terkuras. Puluhan tahun berikutnya, Aral Sea terisi kembali menjadi danau kecil, dengan kombinasi volume sepersepuluh ukuran danau aslinya dan memiliki kadar garam yang lebih tinggi akibat evaporasi.
Oleh karena pengeringan yang terjadi selama puluhan tahun inilah jutaan ikan mati, garis pantau surut berkilometer-kilometer jauhnya dari kota, dan mereka yang bertahan pun akhirnya dibantai oleh badai pasir yang mengandung residu beracun dari industri pertanian dan pengujian senjata di daerah tersebut.
Tahun 2000, danau ini terpisah ke Utara Danau Aral Sea Kecil di Kazakhstan dan Selatan Danau Aral Luas di Uzbekistan. Aral Selatan pun terpecah lagi menjadi cuping barat dan cuping timur. Cupinf timur dari Aral Selatan ini hampir mengalami kekeringan pada 2009 tetapi terisi kembali pada 2010 setelah hujan.
Menurut Micklin, pengeringan yang baru-baru ini terjadi disebabkan oleh penghentian irigasi dari sungai sumber dan juga kurangnya hujan serta salju di Gunung Pamir. Tahun 2005, Bendungan yang dibiayai Bank Dunia serta proyek restorasi dimulai di Kazakhstan dengan tujuan meningkatkan kesehatan Syr Darya dan meningkatkan alirannya ke Aral Sea Utara. Sejak saat itu tingkat ketinggian air meningkat dan kadar garam berkurang.
Namun, Micklin mengatakan, bahwa pengeringan akan terjadi lagi selama beberapa waktu di cuping timur.

Melacak Tapak Observatorium Tertua di Indonesia

Observatorium Mohr, observatorium tertua di Indonesia yang terletak di Glodok, merupakan observatorium tertua di Indonesia.

Melacak Tapak Observatorium Tertua di IndonesiaLukisan Observatorium Mohr, observatorium tertua di Indonesia
Observatorium adalah bangunan yang ditujukan untuk mengamati langit dan bumi dalam disiplin ilmu astronomi, meteorologi, geologi, oseanografi dan vulkanologi. Namun dalam praktiknya nama observatorium lebih sering disematkan kepada bangunan yang dikhususkan untuk mengamati benda-benda langit dan peristiwa-peristiwa langit sekaligus mencatatnya. Maka observatorium berbeda bila dibandingkan dengan proto-observatorium, dimana yang terakhir ini lebih merujuk kepada bangunan multifungsi yang juga berperan sebagai pos observasi benda langit, baik secara rutin maupun sesekali.
Observatorium tertua di Indonesia (dan bukan proto-observatorium) adalah observatorium Mohr. Dinamakan demikian sebab observatorium ini merupakan milik pribadi seorang Johann Mauritz Mohr (1716-1775), ilmuwan Belanda yang juga pendeta Kristen, yang tinggal di Batavia pada masa kekuasaan VOC. Observatorium yang dibangun di atas tanah pribadi Mohr di Mollenvliet (kini Glodok, Jakarta Barat) berdampingan dengan wihara Kim tek I atau Cin te Yuen/Jinde Yuen (kini wihara Dharma Bhakti, Glodok) berbentuk menyerupai bagian depan observatorium Uraniborg (Denmark), tempat kerja astronom Tycho Brahe dua abad sebelumnya, namun dalam skala lebih kecil dan lebih diperkuat.
Observatorium itu berupa bangunan enam lantai yang adalah bangunan tertinggi di Batavia, dengan puncak atap datarnya setinggi 30,5 meter dari permukaan tanah serta memiliki panjang 22,5 meter dan lebar 17,5 meter. Ongkos pembangunannya mencapai 200.000 gulden atau setara Rp 82 milyar (kurs Juni 2012), hampir dua kali lipat lebih mahal dibanding ongkos pembangunan istana Gubernur Jenderal VOC di Buitenzorg (kini istana Bogor). Kemegahannya menjadi buah bibir di Batavia, bahkan dalam dunia ilmiah internasional. Sehingga jalan penghubung observatorium dengan jalan raya Mollenvliet Barat (kini Jalan Gajah Mada) pun dinamakan torenlaan atau gang Torong dalam istilah lokal.
Observatorium Mohr dilengkapi dengan instrumen astronomi terbaik pada masanya. Di antaranya jam astronomik setinggi 180 cm dengan lebar 43 cm, sepasang globe berdiameter 60 cm, kuadran astronomik bergaris tengah 60 cm, instrumen equal-altitude (teodolit?) selebar 60 cm, mesin paralaktik, oktan laut sepanjang 76 cm, teleskop sepanjang 550 cm, pluviometer (pengukur curah hujan), anemometer dan kompas. Observatorium Mohr dibangun sejak 1765 dan berfungsi hingga sepuluh tahun kemudian. Selama masa itu dilakukan berbagai observasi langit dan sejumlah fenomena alam, diantaranya Jupiter dan satelit-satelitnya, transit Venus 4 Juni 1769, transit Merkurius 10 November 1769, curah hujan Batavia, dinamika angin dan deklinasi magnetik Batavia. Tiadanya dukungan VOC, terutama lewat Gubernur Jenderal van de Parra, membuat hanya laporan transit Venus dan Merkurius saja yang sempat terpublikasikan secara luas. Bagaimanapun, aktivitas Mohr menginspirasi terbentuknya Batavia Society of Arts and Sciences (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen) pada 1778.
Aktivitas observatorium Mohr harus terhenti setelah Johann Mauritz Mohr wafat pada 25 Oktober 1775. Tidak ada yang melanjutkan kinerja observatorium ini. Pada 1780, bangunan observatorium rusak berat setelah diguncang gempa kuat yang menghancurkan sebagian Batavia. Kemalangan bertambah lagi dengan wafatnya istri Mohr pada Mei 1782. Namun sebelum wafat, istri Mohr telah menjual instrumen observatorium kepada Johanes Hooijman, yakni pada tahun 1776, dalam kondisi sebagian besar rusak oleh tingginya kelembaban udara Batavia. Hooijman mengirimkannya kembali ke Belanda untuk diperbaiki dan kini sejumlah instrumen itu terpampang pada beberapa museum di Belanda.
Pada Juni 1782, bangunan yang telah rusak itu dijual dan selanjutnya pada 1784 beralih lagi ke tangan Willem Vincent van Riemsdijk dari keluarga Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jeremias van Riemsdijk. Riemsdijk mengubah bangunan itu menjadi penginapan murah sebelum kemudian Gubernur Jenderal Daendels, yang dikenal akan kekejamannya, menutupnya dan mengubahnya jadi barak tentara. Sebagian bangunan itu masih tersisa hingga 1812, namun pada 1844 hanya tinggal pondasinya saja yang masih terlihat.
Dimanakah lokasi tapak observatorium Mohr pada masa kini?
Observatorium Mohr hanya disebutkan terletak di Glodok masa kini, namun dimana posisi sesungguhnya tapaknya tidak jelas. Pasca 1844, tidak ada kejelasan bagaimana status sisa bangunan dan lahan yang pernah menjadi observatorium Mohr. Terlebih salah satu penanda kolektif kota Batavia akan eksistensi observatorium ini, yakni gang Torong, telah bersalin nama sejak 1945.
Beruntung terdapat lukisan-lukisan yang menggambarkan situasi observatorium Mohr, seperti dari Johannes Rach dan J. Clement. Terdapat dua lukisan Rach, yang pertama menggambarkan observatorium Mohr dari jauh yakni dari jalan Mollenvliet Barat dan yang kedua menggambarkannya berdampingan dengan wihara Kim Tek I. Sementara lukisan Clement menggambarkan arsitektur observatorium Mohr dilihat dari bagian depan (arah timur) dan sisi utara. Wihara Kim Tek I (Dharma Bhakti) hingga kini masih ada di Glodok, sehingga dapat dipastikan tapak observatorium Mohr berada di sekitar wihara ini.
Namun, di sebelah mana wihara?
Semula diduga tapak observatorium Mohr terletak di sebelah barat wihara, di lokasi yang kini menjadi lahan Yayasan Pendidikan Ricci dan Gereja Katolik Santa Maria de Fatima. Alasannya, lukisan kedua Rach dianggap mengabadikan pemandangan observatorium dan wihara dari arah timur. Karena observatorium terletak di sisi kanan agak ke belakang dari wihara, maka ditafsirkan tapak observatorium Mohr berada di sebelah barat wihara. Selain itu lahan Mohr, setelah dikuasai pemerintah kolonial Hindia Belanda, dianggap beralih ke tangan kapitan Tionghoa bermarga Tjioe dan kemudian dibeli yayasan dan gereja Katolik tersebut pada 1953.
Namun tinjauan lapangan yang dipadukan analisis komprehensif lukisan kedua Rach dengan lukisan Clement menyajikan hasil berbeda. Jika Clement benar dalam perspektifnya, maka bangunan observatorium Mohr memiliki sisi-sisi bangunan yang simetris, khususnya pada sisi yang saling berhadapan. Sehingga sisi utara berbentuk sama dengan sisi selatan dan demikian pula sisi barat dengan sisi timur. Jika pengetahuan ini diterapkan dalam memandang lukisan kedua Rach, maka bisa disimpulkan titik tempat Rach mensketsa lukisan keduanya bukanlah di sebelah timur, melainkan di sebelah utara atau selatan kedua bangunan tersebut.
Kunci selanjutnya guna mengetahui tapak observatorium Mohr di masa kini terletak pada arsitektur wihara Dharma Bhakti. Lukisan kedua Rach memperlihatkan gambaran wihara dari arah salah satu pintu gerbangnya. Perbandingan dengan foto wihara dari dekade 1930-an yang dikoleksi Troppenmuseum dan tinjauan lapangan memperlihatkan, meski di masa kini bentuk pintu gerbangnya sudah berubah, namun ada pemandangan serupa yang masih tetap ada. Yakni panorama atap bangunan wihara yang mengesankan bertumpuk dua di latar belakang, serta bangunan wihara lainnya di sisi kiri. Panorama tersebut hanya terlihat jika kita memandang seluruh kompleks wihara hanya dari arah selatan, tepatnya dari arah pintu gerbang utamanya. Apa yang mengesankan sebagai atap bertumpuk dua sebenarnya atap dari dua bangunan utama wihara namun keduanya memiliki ketinggian berbeda.
Penggalan-penggalan jalan dalam lukisan kedua Rach pun masih bisa diidentifikasi pada saat ini. Jalan di depan pintu gerbang wihara kini menjadi Jalan Kemenangan 3, sementara jalan di sisi kanan (yang memisahkan kompleks wihara dan observatorium Mohr) menjadi Jalan Kemenangan Raya. Karena dalam lukisan kedua Rach observatorium Mohr digambarkan terletak di sebelah kanan kompleks wihara, maka dapat disimpulkan bahwa tapak observatorium Mohr terletak di sisi timur wihara Dharma Bhakti.
Lukisan Rach menggambarkan observatorium Mohr sebagai bangunan enam lantai, dengan lantai pertama terlukis separuh. Dengan ketinggian 30,5 meter, maka tinggi rata-rata tiap lantai adalah 5 meter. Cukup menarik bahwa batas antara lantai pertama dan kedua observatorium berada pada level relatif sama dengan puncak atap bangunan utama wihara Dharma Bhakti. Maka dengan menganggap tinggi puncak atap bangunan utama tersebut adalah 4 meter, tapak observatorium Mohr persis berseberangan dengan bangunan utama wihara, dipisahkan sepenggal jalan Kemenangan Raya. Amat menarik perhatian bahwa kini bahwa di tempat tersebut terdapat sepetak lahan, tepatnya pada koordinat 6,1440 LS 106,8131 BT. Lahan tersebut diapit sepasang jalan kecil (gang) masing-masing jalan Kemurnian 2 di sisi selatannya dan jalan Kemurnian 1 di sisi utaranya. Bila ukuran observatorium Mohr (yakni panjang 22,5 meter dan lebar 17,5 meter) diplotkan dalam lahan yang kini dimiliki perorangan tersebut, ternyata ukurannya pas.

Jepang Uji Coba Kereta Maglev, Shinkansen Tanpa Roda Super Cepat

Kereta peluru, yang dikenal dengan nama kereta Maglev, menggunakan teknologi magnet agar bisa mendapatkan kecepatan tercepat kereta ini. Tim yang berada di belakang proyek ini juga berencana membangun jalur kereta peluru dari Tokyo ke Osaka pada tahun 2045 nanti. Jalur baru ini akan menghubungkan Jepang dari utara ke selatan. Lima gerbong pertama kereta peluru akan siap digunakan secara komersial pada tahun 2027.
maglev-lede-630-de
Tidak adanya roda pada kereta Maglev dapat mengurangi bahaya kecelakaan dan membuat transportasi menjadi lebih cepat dan tidak berisik. Uji coba resmi dijadwalkan dilakukan September nanti. Kereta peluru adalah kereta tercepat yang pernah dibuat di Jepang. Kereta peluru pertama kali dibuat pada tahun 1964. Shinkansen di Jepang yang diluncurkan sejak 1996 sebelumnya, diklaim memiliki kecepatan sekitar 270 km per jam.

Bagaimana Masa Depan Para Lulusan Astronomi?

Lapangan kerja seperti apa yang menanti masa depan para mahasiswa yang memilih jurusan astronomi?

Bagaimana Masa Depan Para Lulusan Astronomi?Meutia Chaerani / Indradi Soemardjan
Astronomi! Apa yang ada dalam benak Anda ketika mendengar kata ini? Semua hal terkait benda langit? Langit malam penuh bintang? Foto-foto indah dari langit 
Astronomi adalah ilmu alam yang mempelajari benda-benda langit termasuk di dalamnya mempelajari aspek fisika, kimia, biologi, dan juga evolusi dari benda-benda tersebut. Tak hanya itu, astronomi juga mempelajari fenomena di luar atmosfer Bumi, seperti ledakan supernova, ledakan sinar-gamma, radiasi latar belakang mikrokosmik dan lain-lainnya.
Secara sederhana, astronomi merupakan ilmu yang mempelajari, bintang, planet dan antariksa.
Tapi, bagi masyarakat umum, astronomi lebih dikenal dari keindahan foto-foto langit yang dihasilkan baik oleh para astronom maupun astronom amatir. Apalagi dengan kehadiran teleskop landas angkasa, foto-foto dari antariksa yang disajikan pun semakin menakjubkan. Misteri yang tersimpan di balik setiap foto membangun ketertarikan dan rasa ingin tahu akan apa yang terjadi di alam semesta.
Keindahan ini pulalah yang membawa sebagian besar penyuka astronomi untuk tertarik mendalami lebih lanjut bidang yang satu ini lewat pendidikan tinggi di jurusan Astronomi. Tapi, pertanyaan lain pun hadir, seandainya saya memilih astronomi sebagai pilihan studi selama 4 tahun, di manakah saya akan bekerja? Pertanyaan ini pulalah yang menjadi keraguan bagi orang tua untuk merelakan anak-anaknya memilih astronomi.
Di manakah anak saya kelak akan bekerja? Lapangan kerja seperti apa yang menanti masa depan anak saya?
astronomi,haaj,planetarium

Bicara, Bekerja, Wajah

Memaknai slogan daerah Kabupaten Dompu.

Bicara, Bekerja, WajahPantai Lakey, di Kecamatan Hu'u, Kabupaten Dompu. Daerah ini bukan saja memiliki panorama alam yang indah, melainkan juga kearifan lokal yang terjaga. (Firman Firdaus)
Saat melintasi beberapa tikungan di Kabupaten Dompu, saya sempat melihat beberapa spanduk "kampanye" kepala daerah. Ada satu kalimat di situ yang tidak saya mengerti, yakni "nggahi, rawi, pahu".
"Itu artinya 'ngomong', 'kerja', 'muka'," kata Pak Man, sopir dan pemandu ekspedisi. Dalam kata lain, 'bicara', 'bekerja', 'wajah'. Kini saya mengerti arti kata tersebut, tetapi belum memahami apa makna di balik semboyan itu.
Usut punya usut, rupanya maksudnya "satunya kata dan perbuatan dalam mewujudkan kenyataan". Walk the talk, kata orang barat. Ketika seseorang benar-benar seiya-sekata antara perkataan dan perbuatan, maka terlihatlah wajah orang itu sesungguhnya. Itu makna kompletnya.
Terkait soal kampanye pemimpin daerah, slogan tersebut mengandung makna lebih dalam lagi, yakni seorang pemimpin bukan hanya harus bisa berjanji, tetapi juga mesti bisa menepati (bekerja) janjinya itu. Pada saat itu, jelas terlihat wajah sebenarnya seorang pemimpin, bukan pemimpin yang memakai topeng.
Saya tidak tahu apakah para pemimpin di Kabupaten Dompu telah benar-benar memahami makna slogan daerah yang tercantum dalam lambang resmi daerah tersebut. Saya juga kemudian jadi ingat akan janji-janji para pemimpin saat ini yang tak kunjung terpenuhi. Apakah mereka sedang memakai topeng?